Nikmatnya Menjadi Santri

Nikmatnya Menjadi Santri

Ini merupakan kisah pribadi saya yang ingin saya bagikan kepada anda. Kisah ini berawal ketika saya memutuskan untuk mondok. Waktu itu saya menginjak kelas satu SMA, dimana pada jenjang sebelumnya, yaitu saat SMP sebenarnya saya sudah diarahkan oleh Abi dan Ibu untuk mondok. Namun keinginan itu perlahan pudar, karena mungkin pola fikir saya yang belum matang pada waktu itu. Hingga pada akhirnya saya menginjak tingkat SMA. 

Sesuai dengan janji saya pada Abi dan Ibu, saya membulatkan niat untuk mondok, dan meluruskan niat tersebut hanya karena Allah. Seiring bertambahnya usia, maka  bertambah pula pengetahuan saya mengenai pentingnya menuntut ilmu dan tawadhu pada orang tua. 

Sebelum mondok, tepatnya di SMP kelas 9 saya sudah mengikuti tahfidz yang berada di Desa Sebelah. Alhamdulillah, berbekal menimba ilmu tahfidz saya menjadi lebih bersemangat untuk mondok di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran. Disinilah saya mulai menjadi Santri. 

Mondok di Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Paciran, ternyata sangat jauh berbeda dengan bayangan yang selama ini diberikan oleh teman teman saya. Di pondok ini saya merasakan nikmatnya menjadi santri seutuhnya. Dimana pada pesantren ini saya menjadi lebih dekat dengan Allah, dipertemukan dengan ustad dan ustadzah, serta mendapat sahabat yang sama sama berjuang dengan kalamullah. 

Nikmatnya menjadi santri sangat sempurna dengan dukungan orang tua dan juga keluarga di rumah. Meski mereka tak berada dekat dengan saya, namun pelukan dan kasih sayang keluarga selalu mengiringi langkah. 

Sudah hampir 7 bulan saya mondok, dan tidak ada satupun hari terlewat tanpa sebuah pelajaran berharga. Meski awal mondok terasa berat karena jauh dari Abi dan Ibu serta keluarga, namun dengan niat yang lurus saya kembali menata hati agar siap untuk membahagiakan semuanya. 

Mungkin itu sepucuk pengalaman saya mengenai nikmatnya menjadi santri. Dimana nikmat sesungguhnya ialah dapat lebih dekat dengan kalamullah dan mengamalkannya dalam kegiatan sehari-hari. Abi, ibu.. Ananda rindu. Sampai jumpa dalam doa panjang sujudku lagi. Kutunggu kunjungan pondok selanjutnya. Salam sayang selalu terukir dalam qalbu. 

Belum ada Komentar untuk "Nikmatnya Menjadi Santri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel